Rabu, 21 November 2012

Pengaruh Musik Pada Masyarakat Di Era Globalisasi



 

Di era globalisasi kini semua hal berkembang pesat, baik dari sisi teknologi sampai ke sisi modis dan lain-lain. Negara ini yang notabenenya adalah sebuah Negara yang berstatus Negara berkembang seolah-olah sangat mudah dipengaruhi oleh pengaruh globalisasi tersebut.

Di luar sana, banyak Negara-negara maju yang kini seakan-akan adalah pusat dari era globalisasi. Kita sebagai Negara timur hanya bisa mengikuti dan mengikuti hal-hal apa saja yang kini sedang “gaul”.

Mari kita ambil sampel yang mudah saja, misalnya dapat kita bahas tentang musik zaman kini. Seperti yang kita semua tahu, banyak sekali jenis-jenis dari musik di dunia ini misalnya ada musik pop, jazz, reggae, rock, r and b, dan semacamnya. Di Indonesia sendiri pun memiliki musik yang sangat khas, yaitu musik dangdut, tarling, pop melayu, dan semacamnya.


Siapa orang-orang Indonesia yang tidak tahu akan musik dangdut? Ya harus diakui, musik itu telah dianggap telah mendarah daging ke orang-orang dalam negeri. Kita bisa lihat contoh mudahnya, misalnya jika kita pergi ke acara suatu pernikahan atau semacamnya pasti yang akan di dengar adalah dangdut, itu sudah pasti. Orangtua kita pun pasti tahu musik itu, karena itu telah dianggap melegenda di dalam negeri.

Selanjutnya kita akan bahas jenis musik pop yang ada di Indonesia. Untuk para remaja atau abg pasti lebih melekat dengan musik ini. Harus diakui, mereka lebih suka musik pop dibandingkan dengan dangdut. Bagusnya, terkadang banyak remaja Indonesia yang mencintai musik dangdut yang melegenda itu.

Dari tahun ke tahun, banyak band-band atau penyanyi-penyanyi yang masuk  chart musik dalam negeri. Berbeda dengan sebelumnya yang sedikit diisi oleh band-band ataupun penyanyi-penyanyinya. Bisa dibilang itu menambah variasi-variasi permusikan di Indonesia.

Namun sisi negatifnya hal tersebut dapat menurunkan citra permusikan di Indonesia. Kenapa? Ya jelas, karena banyak sekali pendatang baru yang muncul. Lebih mirisnya lagi, jika mereka memperkenalkan lagu-lagu mereka yang tidak semestinya diperkenalkan ke publik.

Mari kita lihat dahulu dalam masyarakatnya itu sendiri. Di Indonesia yang kini sedang mengglobalisasi cukup pesat, dapat mempermudah untuk mengakses sebuah keperluan atau hal lainnya dengan cepat dan tidak terbelit-belit. Misal kita sedang berada di jalan, coba tengok anak-anak kecil berkisar SD sampai SMP yang kini memiliki “pegangan” handphone yang canggih dan semacamnya, bahkan anak-anak TKpun bisa melakukan hal yang serupa.

Yang mereka dapatkan mengenai hal tadi dalam permusikan kini adalah hanya mengikuti mode yang terbilang popular saat ini. Sedikit dari masyarakat tersebut yang dapat mengetahui itu adalah hal yang berdampak positif atau sebaliknya.

Mungkin bisa jadi, kalau masyarakat yang tidak tahu-menahu permusikan di Indonesia kini. Akhir-akhir ini banyak pendatang baru yang mengadopsi dari luar atau bisa dibilang dengan copy-paste, hanya saja diubah lirik lagunya dan semacamnya. Ada lagi yang kini banyak mengikuti trend-trend yang ada sekarang. Itu semua membuat citra musik dalam negeri semakin lama semakin menurun.

Mari kita flashback, dahulu boleh dibilang lagu-lagunya enak didengar, liriknya yang sangat Indonesia dan semacamnya. Berbeda dengan saat ini, yang lagu-lagunya terbilang asal-asalan dan tidak berbobot. Banyak sekali yang hanya bermodal muka atau yang lainnya, bukan modal suara atau bobot lagu itu sendiri. Atau yang lebih parahnya lagi, hanya bermodal beberapa lagu yang sederhana dan beberapa bulan setelahnya mereka menghilang.

Hal lainnya juga, karena pengaruh globalisasi banyak sekali lagu-lagu luar negeri yang masuk bebas ke masyarakat Indonesia, mereka akan berfikir bahwa lagu-lagu sana lebih bagus dan lebih keren dibandingkan dengan music tanah air itu sendiri.

Terkadang juga itu berdampak pada anak-anak kecil sendiri karena itu, banyak anak-anak yang hafal oleh lirik lagu-lagu mereka yang bermodal muka dan lirik yang simpel. Lebih hebatnya lagi, belum tentu mereka hafal dengan lagu-lagu anak-anak kecil ataupun lagu nasional.

Ketika kita menanyakan kepada mereka, “Kamu hafal ga lagu-lagu dari band *****?”. Dengan bangga mereka jawab, “Hafal dooong!”. Saat ditanya hafal atau tidaknya lagu-lagu anak kecil ataupun lagu nasional, kadang mereka menanyakan kembali bagaimana lagunya.

Apalagi untuk anak-anak yang terbilang di masa emas mereka, yang kurang lebih sekitar umur 1-5 tahun, sesungguhnya musik-musik yang didengar itu sangat berpengaruh pada anak-anak tersebut.

Misalnya saja di saat masa emasnya, anak-anak malah mendengar musik-musik yang beralunan keras, itu dapat memberikan dampak yang kurang baik. Karena itu biasanya dapat membuat tempramental mereka mengalir seperti alunan yang didengarkannya. Contohnya bisa membuat mereka menjadi lebih emosional, dalam artian mudah marah, cara bergaul anak-anak dengan yang lainnya menjadi kurang baik dan bisa saja menjadi anak dengan pribadi yang keras juga.

Sebaliknya, jika anak-anak mendengar musik-musik beralunan halus dan lembut, memberikan dampak yang baik untuk mereka. Juga dapat membuat tempramentalnya menjadi lembut juga. Misalnya saja anak tersebut dapat menjadi anak yang mudah diatur, dan yang jelas cara bergaul dengan yang lainnya pun menjadi baik.

Di mulai dari ruang lingkup terkecil, di rumah, seharusnya orangtua membimbing anak-anaknya walaupun terkadang itu menjadi suatu hal yang disepelekan orang-orang . Terkadang karena dari hal kecil itu lah dapat berdampak pada anak-anak itu sendiri, seperti kurangnya waktu untuk mereka dan lain-lain. Dan juga di luar rumah harus juga dibimbing agar anak-anak selayaknya mereka bagaimana.

Selanjutnya oleh produsen permusikan di Indonesia. Dahulu memang band-band atau penyanyi namun memiliki kualitas yang terbilang bagus, tidak dengan sekarang. Akhir-akhir ini bermunculan secara drastis ke permusikan Indonesia, yang hanya bermodal muka dan lirik yang sederhana namun tidak berbobot.

Belum lama ini, dihebohkan dengan yang namanya boyband dan girlband yang mendunia hingga sampai ke Indonesia. Hal itu membuatnya menjadi lebih buruk lagi, karena seperti yang sebelumnya, kualitasnya hampir nol besar. Dengan hadirnya mereka, membuat musik di Indonesia menjadi inconsistent. Musik Indonesia yang notabenenya adalah musik dangdut dan pop melayu kini secara perlahan-lahan memudar dimakan oleh waktu.

Kesimpulan yang dapat diambil dari artikel ini adalah di era kini boleh saja kita mengikuti perkembangan zaman yang tiada habisnya, namun di dalam negeri tetap harus dijaga konsistennya dalam hal permusikan di Indonesia. Karena dapat mempengaruhi masyarakat seperti pada bacaan artikel ini. Sang produsen permusikan Indonesia seharusnya tidak asal untuk meloloskan pendatang baru, harus lebih selektif dalam memilih para pendatang baru yang masuk ke permusikan di Indonesia. Masyarakat sendiri pun harus lebih teliti dalam hal memilih, dan juga harus mencintai produk-produk lokal.



Sumber gambar : http://www.google.co.id/